Aroma dupa mengalun tipis dari sebuah pendopo sederhana di Labuhan Dalam, Bandar Lampung. Tepatnya di Jalan Melati, Gang Pura Banjar Nomor 49. Di tempat itulah Sanggar Sekar Wawai merawat tradisi melalui gerak tari dan pendidikan karakter.
(Notis.Co.id): Di sudut pendopo itu, Ida Ayu Komang Ratih Safitri atau Dayu pernah berdiri dengan perasaan tidak nyaman. Saat itu usianya baru lima tahun. Ia datang bukan karena keinginannya sendiri.
Dayu kecil merasa terasing. Lingkungan baru, orang-orang yang belum dikenalnya, dan suasana sanggar membuatnya ingin segera pulang.

Keinginan itu semakin kuat ketika sebuah insiden terjadi. Seorang penari tiba-tiba terjatuh dan menghantam lantai pendopo saat latihan berlangsung.
Tabuhan musik langsung terhenti. Suasana mendadak tegang. Bagi Dayu, kejadian itu menjadi alasan untuk tidak kembali lagi.
Namun keadaan berubah.
Pelatih segera menenangkan situasi. Dayu kemudian diajak ikut bergerak mengikuti irama musik. Ia mencoba melangkah ke kanan dengan tangan dan kaki yang masih kaku.
Di dalam hati, ia masih ingin pulang.
Meski begitu, setiap akhir pekan sang ibu selalu membawanya kembali ke sanggar. Perlahan, rasa asing itu mulai memudar.
“Cukup lama aku ngerasa asing gitu. Baru minggu kelima lah berasa nyaman,” kenang Dayu, baru-baru ini.
Belajar Mengenal Budaya Sendiri
Waktu menjadi jawaban atas keraguan Dayu.
Pendampingan para pelatih membuatnya mulai menikmati latihan. Ia tidak lagi datang karena terpaksa, melainkan karena ingin belajar.
Kini, setelah 12 tahun bertahan, Dayu justru bersyukur pernah diperkenalkan pada dunia tari.
“Kalo dulu aku berhenti, kayaknya aku nggak akan mengenal budayaku sedalam ini,” ujarnya.
Perjalanan Dayu turut disaksikan oleh Luh Puspita Gita Nurani, salah satu pelatih di Sanggar Sekar Wawai.
Menurut Gita, rasa malu dan canggung merupakan hal yang umum dialami anggota baru. Karena itu, para pelatih berusaha menciptakan suasana yang nyaman bagi setiap anak yang bergabung.
Sanggar yang Merawat Keberagaman
Sanggar Sekar Wawai didirikan oleh Ni Nyoman Ratna Dewi Pasek. Sejak awal, sanggar ini dirancang sebagai ruang belajar yang terbuka bagi siapa saja.
Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari keluarga Bali, Jawa, hingga Lampung.

Mereka juga datang dari beragam keyakinan, mulai dari Islam, Kristen, hingga Hindu.
Nilai toleransi tumbuh melalui kebersamaan dalam latihan. Anak-anak belajar saling menghormati sambil bergerak mengikuti irama yang sama.
Saat ini, Sanggar Sekar Wawai memiliki sekitar 50 anggota berusia 3 hingga 20 tahun.
Sejak 2021, sistem kelas diterapkan setiap Sabtu dan Minggu sore. Materi yang diajarkan tidak hanya tari Bali, tetapi juga Tari Sigeh Penguten sebagai tari tradisional khas Lampung.
Menempa Disiplin Lewat Tari
Setiap sesi latihan anak-anak berlatih kelenturan tubuh. Mereka juga mengasah teknik kerlingan mata yang menjadi salah satu unsur penting dalam tari Bali.
Prosesnya tidak singkat.
Butuh waktu antara tiga bulan hingga satu tahun untuk menguasai satu teknik dengan baik. Karena itu, kesabaran dan disiplin menjadi bagian penting dalam setiap latihan.
Bagi Dayu, perjalanan panjang itu telah mengubah banyak hal.

Ia datang sebagai anak kecil yang ingin pulang. Kini, ia menjadi bagian dari generasi yang memilih bertahan untuk menjaga akar budayanya.
Di pendopo sederhana itu, tradisi tidak hanya diajarkan. Tradisi terus hidup melalui anak-anak yang memilih meneruskannya.(*)
















