Dulu Ingin Pulang, Dayu Kini Bertahan 12 Tahun di Sanggar Sekar Wawai

Rabu, 17 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ida Ayu Komang Ratih Safitri alias Dayu (paling kiri) bersama dua pelatih di sanggar tari Sekar Wawai. (Foto: Notis.co.id)

Ida Ayu Komang Ratih Safitri alias Dayu (paling kiri) bersama dua pelatih di sanggar tari Sekar Wawai. (Foto: Notis.co.id)

Aroma dupa mengalun tipis dari sebuah pendopo sederhana di Labuhan Dalam, Bandar Lampung. Tepatnya di Jalan Melati, Gang Pura Banjar Nomor 49. Di tempat itulah Sanggar Sekar Wawai merawat tradisi melalui gerak tari dan pendidikan karakter.

(Notis.Co.id): Di sudut pendopo itu, Ida Ayu Komang Ratih Safitri atau Dayu pernah berdiri dengan perasaan tidak nyaman. Saat itu usianya baru lima tahun. Ia datang bukan karena keinginannya sendiri.

Dayu kecil merasa terasing. Lingkungan baru, orang-orang yang belum dikenalnya, dan suasana sanggar membuatnya ingin segera pulang.

Murid sanggar tari Sekar Wawai yang berlatih rutin tiap minggu. (Foto: Notis.co.id)
Murid sanggar tari Sekar Wawai yang berlatih rutin tiap minggu. (Foto: Notis.co.id)

Keinginan itu semakin kuat ketika sebuah insiden terjadi. Seorang penari tiba-tiba terjatuh dan menghantam lantai pendopo saat latihan berlangsung.

Tabuhan musik langsung terhenti. Suasana mendadak tegang. Bagi Dayu, kejadian itu menjadi alasan untuk tidak kembali lagi.

Namun keadaan berubah.

Pelatih segera menenangkan situasi. Dayu kemudian diajak ikut bergerak mengikuti irama musik. Ia mencoba melangkah ke kanan dengan tangan dan kaki yang masih kaku.

Baca Juga  Pengrajin Tempe Keluhkan Program Makan Bergizi Gratis di Bandar Lampung

Di dalam hati, ia masih ingin pulang.

Meski begitu, setiap akhir pekan sang ibu selalu membawanya kembali ke sanggar. Perlahan, rasa asing itu mulai memudar.

“Cukup lama aku ngerasa asing gitu. Baru minggu kelima lah berasa nyaman,” kenang Dayu, baru-baru ini.

Belajar Mengenal Budaya Sendiri

Waktu menjadi jawaban atas keraguan Dayu.

Pendampingan para pelatih membuatnya mulai menikmati latihan. Ia tidak lagi datang karena terpaksa, melainkan karena ingin belajar.

Kini, setelah 12 tahun bertahan, Dayu justru bersyukur pernah diperkenalkan pada dunia tari.

“Kalo dulu aku berhenti, kayaknya aku nggak akan mengenal budayaku sedalam ini,” ujarnya.

Perjalanan Dayu turut disaksikan oleh Luh Puspita Gita Nurani, salah satu pelatih di Sanggar Sekar Wawai.

Baca Juga  Pengrajin Tempe Keluhkan Program Makan Bergizi Gratis di Bandar Lampung

Menurut Gita, rasa malu dan canggung merupakan hal yang umum dialami anggota baru. Karena itu, para pelatih berusaha menciptakan suasana yang nyaman bagi setiap anak yang bergabung.

Sanggar yang Merawat Keberagaman

Sanggar Sekar Wawai didirikan oleh Ni Nyoman Ratna Dewi Pasek. Sejak awal, sanggar ini dirancang sebagai ruang belajar yang terbuka bagi siapa saja.

Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari keluarga Bali, Jawa, hingga Lampung.

Murid sanggar tari Sekar Wawai berasal dari beragam etnis dan agama. (Foto: Notis.co.id)
Murid sanggar tari Sekar Wawai berasal dari beragam etnis dan agama. (Foto: Notis.co.id)

Mereka juga datang dari beragam keyakinan, mulai dari Islam, Kristen, hingga Hindu.

Nilai toleransi tumbuh melalui kebersamaan dalam latihan. Anak-anak belajar saling menghormati sambil bergerak mengikuti irama yang sama.

Saat ini, Sanggar Sekar Wawai memiliki sekitar 50 anggota berusia 3 hingga 20 tahun.

Sejak 2021, sistem kelas diterapkan setiap Sabtu dan Minggu sore. Materi yang diajarkan tidak hanya tari Bali, tetapi juga Tari Sigeh Penguten sebagai tari tradisional khas Lampung.

Baca Juga  Pengrajin Tempe Keluhkan Program Makan Bergizi Gratis di Bandar Lampung

Menempa Disiplin Lewat Tari

Setiap sesi latihan anak-anak berlatih kelenturan tubuh. Mereka juga mengasah teknik kerlingan mata yang menjadi salah satu unsur penting dalam tari Bali.

Prosesnya tidak singkat.

Butuh waktu antara tiga bulan hingga satu tahun untuk menguasai satu teknik dengan baik. Karena itu, kesabaran dan disiplin menjadi bagian penting dalam setiap latihan.

Bagi Dayu, perjalanan panjang itu telah mengubah banyak hal.

Butuh ketekunan lama untuk menguasai satu teknik tari Bali. (Foto: Notis.co.id)
Butuh ketekunan lama untuk menguasai satu teknik tari Bali. (Foto: Notis.co.id)

Ia datang sebagai anak kecil yang ingin pulang. Kini, ia menjadi bagian dari generasi yang memilih bertahan untuk menjaga akar budayanya.

Di pendopo sederhana itu, tradisi tidak hanya diajarkan. Tradisi terus hidup melalui anak-anak yang memilih meneruskannya.(*)

(Kontributor: Alexandria Avinka Sasikirana)
(Kontributor: Alexandria Avinka Sasikirana)

Berita Terkait

Cegah Kenakalan Remaja, Kapolsek Tanjung Karang Timur Ajak Warga Kedamaian Peduli Generasi Muda
Cegah Banjir, Pemkot Bandar Lampung Perlebar Sungai di Gang Sawo
Babinsa dan Damkar Kolaborasi Cepat Padamkan Kebakaran di Durian Payung
Camat Way Halim dan Puskesmas Turun Langsung, Hadir untuk Warga Kecil
Wali Kota Eva Dwiana Buka Porcam Panjang, Dorong Lahirnya Atlet Muda Bandar Lampung
Sinergi Langkapura dan Bank Sampah: Gerakan Ibu-Ibu Wujudkan Bandar Lampung Bersih
Warga Ragom Gawi 1 Sambut Gembira Perbaikan Jalan di Kemiling
Kampung Berkualitas Melati Jaya, Sukamenanti Baru, dari Iuran Warga hingga Inovasi Minuman Sehat

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:01 WIB

Dulu Ingin Pulang, Dayu Kini Bertahan 12 Tahun di Sanggar Sekar Wawai

Kamis, 13 November 2025 - 01:59 WIB

Cegah Banjir, Pemkot Bandar Lampung Perlebar Sungai di Gang Sawo

Kamis, 13 November 2025 - 01:58 WIB

Babinsa dan Damkar Kolaborasi Cepat Padamkan Kebakaran di Durian Payung

Kamis, 13 November 2025 - 01:56 WIB

Camat Way Halim dan Puskesmas Turun Langsung, Hadir untuk Warga Kecil

Kamis, 13 November 2025 - 01:52 WIB

Wali Kota Eva Dwiana Buka Porcam Panjang, Dorong Lahirnya Atlet Muda Bandar Lampung

Berita Terbaru

Yuyun Candra Wati Merintis karir sebagai paralegal mengadvokasi rakyat.

Speak Up

Yuyun Candra Wati, Meniti Jalan Menuju Advokat Rakyat

Sabtu, 27 Des 2025 - 14:41 WIB