Ketika banyak orang sedang terlelap nyenyak. Kumandang azan subuh belum lagi terdengar. Daryono dan Danang justru sudah menekan “mode-on” aktivitasnya. Bapak dan anak ini telah disibukkan dengan proses pembuatan tahu.
(Notis.co.id): Daryono yang ditemani putranya, Danang, memang selalu memulai proses produksi tahu di kisaran pukul 4 dini hari.
Rutinitas yang berlangsung sejak 2018 ini diawali dengan penggilingan kedelai, sebagai bahan baku utama tahu. Lalu dilanjutkan proses merebus adonan dan penyaringan ampas. Sampai kemudian pengendapan sari kedelai. Semua proses akan berakhir pada tahapan pencetakan dan pemotongan menjadi bentuk tahu.
“Saya kasih nama tahu Bejo,” ucap Daryono, saat menerima Notis.co.id ke kediaman yang merangkap sebagai tempat produksi, di Kelurahan Gunung Sulah, Way Halim, Rabu (5/8/2026).
“Maksudnya nggak ada lain. Biar mudah diinget orang. Biar mudah juga dicari di Google map,” sambung Daryono seraya mengembangkan senyum.
Kendati dikelola secara rumahan, tahu Bejo mampu memproduksi 5 ribu sampai 7 ribu potong tahu tiap hari. Pendistribusiannya dipasok ke para pelanggan yang tersebar di beberapa tempat. Seperti ke wilayah Way Halim, Jatimulyo, Pasar Untung, hingga Sukarame.
Pelanggannya bukan hanya ke pedagang eceran, tetapi juga dipasok pada beberapa rumah makan Minang. Ada juga tahu yang sampai dikirim ke luar kota. Contohnya ke Palembang dan Jakarta.

Program MBG dan UMKM
Sebenarnya, produksi tahu Bejo bisa lebih didongkrak lagi. Hanya saja sebagai usaha keluarga, UMKM ini terkendala harga kedelai. Bahan baku ini masih diimpor. Tak pelak harganya kerap fluktuatif menyesuaikan kurs dolar. Malah, dalam banyak kasus, harganya cenderung melambung tinggi.
Bagi Daryono yang rutin belanja 1 ton kedelai untuk kebutuhan produksi 18 sampai 20 hari itu, harga bahan baku yang tidak stabil terasa sangat menyulitkan.
Oleh karenanya, dia tidak mau ambil risiko dengan spekulasi memproduksi tahu tanpa pesanan dari pelanggan.
Pengakuan mengejutkan justru meluncur dari Daryono. Dia menyebut program makan bergizi gratis (MBG) tidak berdampak positif pada usaha tahu miliknya.
“Dapur-dapur MBG itu jelas perlu tahu. Mereka banyak yang datang mau beli di sini. Tapi harga yang ditawarin enggak manusiawi. Terlalu murah. Boro-boro untung, malah modal pun enggak nutup,” terang Daryono yang menolak permintaan dari dapur MBG hingga sekarang.
Dia menguraikan, tahu yang diproduksinya memiliki beberapa varian. Ada tahu putih mentah dan tahu goreng kuning. Untuk tahu putih dibagi lagi berdasarkan ukuran. Ada yang dipotong kecil, ada juga yang potongannya berukuran besar.
Dapur MBG, sambung Daryono, rata-rata mau membeli tahu Bejo dengan harga Rp20 ribu untuk 100 potong tahu. Sedangkan bila dijual ke pelanggan, tahu Bejo dihargai Rp30 ribu per 100 potong untuk ukuran kecil. Sementara untuk 100 tahu putih berukuran besar dibanderol harga Rp35 ribu.
Tak hanya perihal harga beli. Daryono juga menceritakan fakta lain terkait keberlangsungan program MBG.
“Kemarin kan MBG sempat libur lama, ya. Kami seneng, tuh. Enggak tahu kenapa, harga bahan pokok banyak yang turun. Buat kami pengrajin tahu yang kebutuhannya bukan cuma kedelai, jelas itu bikin untung. Karena biaya lebih rendah. Sedangkan kami jual tahu dengan harga standar. Aneh ya, enggak ada MBG malah nguntungin kami,” cerita Daryono.(*)
















