“Nggak bisa sekarang. Lagi banyak yang dipegang. Kalau mau paling diinepin. Biar nanti malam bisa dilemburin,” kata Awan pada lelaki yang datang sambil menuntun sepeda kecil. Bersamanya turut seorang anak lelaki. Raut wajahnya menyiratkan rasa kecewa mendengar penjelasan itu.
(Notis.co.id): Menurut Awan, dia terpaksa memberi penawaran demikian ketika bengkel sepedanya sedang banyak “pasien”. Bengkel Sepeda Untung yang berada di ruas Jalan Untung Suropati, Labuan Ratu, ini memang satu-satunya bengkel sepeda di sana.
“Dulu waktu pandemi, waktu main sepeda lagi booming, sempat ada bengkel sepeda dekat perumahan. Kurang lebih setengah kilo dari sini. Tapi pas musim sepeda lewat, bengkelnya juga ikut tutup,” terangnya, saat Notis menyambangi bengkelnya di sekitar fly over, Jumat (26 Juni 2026).
Bengkel sepeda memang menjadi “barang langka” di era merebaknya sepeda motor. Tapi tidak dengan bengkel sepeda milik Awan. Sampai sekarang eksistensinya masih terus bertahan. Baginya, ini bukan sekadar mencari penghasilan. Lebih dari itu ngoprek sepeda sudah menjadi bagian hidup.
“Saya meneruskan bengkel usaha Bapak,” jelasnya. Awan mengaku semenjak kecil memang sudah suka main sepeda. Hobinya itu terus berlanjut hingga remaja. “Dulu main BMX,” sambungnya.
Saat ini, tambah dia, anak-anak zaman sekarang masih ada yang main sepeda BMX, walau jumlahnya tidak banyak. “Kalau sekarang lagi musim sepeda kalcer,” ungkapnya.
Sepeda kalcer yang Awan maksud adalah sepeda MTB atau Federal yang dimodifikasi sedemikian rupa biar lebih “cakep”.
Penggemarnya rata-rata remaja yang duduk di bangku SMA, meski ada juga yang sudah berkuliah bahkan kerja. Mereka bersepeda usai beraktivitas rutin. Lebih sering di malam hari.
Tren ini yang kemudian meramaikan bengkel Awan. Setiap hari selalu saja ada sepeda pelanggan yang ditanganinya. Rata-rata dua sampai tiga sepeda.
Hobi Jadi Sumber Rezeki
Selain memodifikasi, Awan juga kerap “mengobati” sepeda rusak. Baginya, serusak apa pun kondisi sepeda, selagi tidak patah, tetap bisa diperbaiki.
“Sering juga dateng sepeda rusak abis jatuh atau kecelakaan. Sudah banyak bagian yang bengkok-bengkok. Kalau yang punya mau bersabar, biasanya sepedanya bisa diperbaiki. Tapi memang nggak bisa buru-buru. Disesuaiin sama kerusakannya,” katanya.

Tak hanya sepeda berukuran besar, pelanggan Awan juga datang dari kalangan sepeda anak-anak. Malah, disaat libur sekolah seperti sekarang, jumlahnya meningkat.
“Mungkin tadinya jarang di mainin, pas libur pada kepingin main sepeda. Karena lama nggak dimainin biasanya ada aja bagian sepeda yang rusak. Makanya jadi banyak sepeda anak-anak yang ke bengkel,” ungkapnya.
Soal biaya jasa, Awan tidak membanderol ongkos tertentu. Lagi-lagi semua disesuaikan dengan kondisi.
Cerita lainnya, Awan menunjuk pada tumpukan berbagai jenis dan ukuran sepeda di salah satu sudut bengkelnya. Jumlahnya sekitar belasan.
Menurutnya, itu adalah sepeda yang diantar pemiliknya untuk diperbaiki, namun tidak diambil. Malah tidak sedikit diantaranya yang sudah menginap nyaris setahun di bengkelnya.
Saat ditanya mengapa tidak dijual? Awan menanggapi dengan seulas senyum. “Itu bukan hak saya, Mas. Biar aja di situ sampai yang punya dateng,” tuturnya.
Begitu juga saat disinggung terkait penghasilannya dari ngebengkel. “Lumayan aja buat dapur. Kalau masih kurang saya biasanya selingin dengan ngegojek. Jadi cukuplah buat anak-anak,” cerita Awan yang memiliki dua anak.
Buatnya, sepeda yang telah menjadi hobi lama, sudah membawa berkah tersendiri. Karena selain menyenangkan untuk dimainkan, sepeda juga menjadi sumber rezeki bagi kelangsungan hidup keluarganya.
“Saya bersyukur banget itu,” ucap Awan sambil mengulas senyum. (*)















