Ruas Jalan Nusantara di Kecamatan Labuan Ratu, Bandar Lampung, itu melintasi sebatang sungai kecil. Pada salah satu sisinya berdiri tembok pagar menjulang milik kompleks perumahan elit. Di sisi lain terhampar lahan disesaki semak belukar dan deretan rumpun bambu. Sepintas pemandangannya tampak asri. Tapi sayangnya bau menyengat menguar dari sana.
(Notis.co.id): Kiranya di dekat rumpun bambu berserak sampah yang dibuang warga. Itu biang keladi bau busuk. Dulu, sebuah banner pernah dipasang di sana. Berisi tulisan, “Semoga yang Buang Sampah di Sini Dilaknat Allah”.
Rupanya, sumpah serapah itu tak mempan. Warga berengsek tak lagi khawatir kalau doa dalam banner diijabah Sang Khalik.
Sore tumpukan sampah dibersihkan, seiring mentari menyingsing keesokan pagi, tumpukkan sampah kembali terbit. Bahkan, hingga banner lapuk ditikam panas dan direjam hujan, sampah-sampah itu tetap eksis.
Tidak hanya pemilik lahan yang pusing tujuh keliling. Pihak kelurahan dan Ketua Rukun Tetangga setempat pun ikut gusar. Mereka putar otak untuk mengatasi perilaku warga berengsek yang buang sampah tidak pada tempatnya.
Belakangan, mereka bergotong royong. Membersihkan lokasi tersebut. Tak berhenti sebatas itu. Lokasi pun diberi pagar bambu. Tingginya tak lebih semeter. Cukup sebagai penanda saja.
Di balik pagar kemudian ditanami kembang hasil sumbangan warga sekitar. Mereka berharap, kalau lahan itu sudah mengejawantah menjadi “taman”, mungkin warga berengsek akan sungkan melempar sampah ke sana.
Harapan itu kiranya terkabul. Keesokan hari dan beberapa hari berselang, taman mungil itu tidak ternodai sampah warga. Aman? Sayangnya, tidak!
Belum lagi genap seminggu umur taman, sampah kembali datang. Awalnya hanya beberapa plastik sampah saja. Tapi itu sudah cukup dibaca sebagai isyarat oleh sesama warga berengsek lainnya.
Tak pelak, keesokan pagi saat masih gelap gulita atau sinar mentari masih samar-samar menyeruak, sampah kembali datang berbondong-bondong. Pengendara motor dan mobil tak lagi sungkan melempar sampah dapur mereka ke sana.
Tak ayal eksistensi taman mungil terdesak, sebelum akhirnya benar-benar berhasil diinvasi oleh tumpukkan sampah. Pagar bambu sederhana ikut roboh. Mungkin dirusak warga berengsek yang gelap mata. Kini atmosfer kelam kembali menyelimuti lokasi itu.

Fenomena nyaris serupa juga pernah terjadi di sudut kawasan lain. Tepatnya di luar pagar sisi kanan Gedung Perpustakaan Provinsi Lampung atau Nuwa Baca Zainal Abidin Pagar Alam.
Beberapa waktu lalu, bangunan yang berada di ruas Jalan Z.A. Pagar Alam ini, sempat dikotori oleh tabiat warga berengsek. Mereka menjadikan trotoar sebagai tempat pembuangan sampah.
Modusnya setali tiga uang dengan kejadian di Jalan Nusantara. Ketika pagi masih remang, sambil melintas lambat warga berengsek menguntal sampah dari atas motor atau dalam mobil.
Pihak Perpusda putar otak untuk mengendalikannya. Mereka menjalankan strategi membikin “taman mungil” persis di titik sasaran pembuangan sampah.
Beberapa tanaman dalam pot ban bekas disusun berjajar. Beruntung, ikhtiar ini berbuah manis. Sejak itu sampah tak datang lagi.
Perlu Diberi Sanksi
Perilaku warga berengsek ini sangat mungkin juga berlangsung di banyak tempat lainnya di Kota Bandar Lampung. Tindakan menjijikkan ini sudah semestinya tidak ditoleransi.
Warga berengsek macam itu perlu diberi sanksi. Setidaknya mesti memungut kembali sampah yang telah dibuangnya.
Kalau di lain waktu masih kedapatan mengulangi tindakannya, orang tak tahu malu dan imannya sudah tak utuh (disebut demikian lantaran kebersihan merupakan sebagian dari iman. Jika tidak menyukai kebersihan artinya sebagian imannya sudah raib) itu memang perlu diberi ganjaran lebih serius.
Perangkat pemerintahan kiranya perlu mengambil langkah tegas. Semacam razia. Sebab, bila dibiarkan, mental jorok warga berengsek ini bakal menodai wajah Bandar Lampung.
Belepotan akan terlihat di mana-mana. Pada akhirnya kebersihan, keindahan dan kesehatan warga kota ikut tercemar. Kena dampaknya. (*)
Menjadi jurnalis sejak 1999. Pemerhati literasi digital dan tertarik pada sastra. Menulis buku-buku fiksi dan non-fiksi. Tinggal di Kota Bandar Lampung.















