Share This Article
Cuaca gerah musim kemarau seakan tak mampu menembus “pagar” telaga di pelataran Masjid Safinatul Ulum. Apalagi keindahan kubah dan menara yang terpantul di air telaga, sambil ditingkahi rindang pepohonan yang melingkupi, menghadirkan aroma damai tersendiri. Keasrian menyambut jamaah di masjid kebanggaan warga UIN Raden Intan itu.
(Notis.co.id): Beranjak ke bagian dalam Masjid Safinatul Ulum, suguhan keindahan masih berlangsung. Arsitektur bangunan yang dihiasi ukiran kaligrafi bernuansa hijau dan emas, tak pelak memancing decak kagum.
Keindahan interior ini makin dilengkapi oleh hamparan lantai yang bersih dan berkilau. Menjanjikan ketenangan bagi siapa pun yang berada di sana.
Keagungan tersebut tidak serta merta hadir begitu saja. Ada cerita panjang di belakangnya. Setidaknya, pembangunan yang diawali pada 2013 itu bergulir hingga 8 tahun. Sampai masjid yang memiliki daya tampung 6 ribu jamaah ini, benar-benar rampung pada 2021 dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI K.H. Ma’ruf Amin.
“Sepadan dengan hasilnya. Masjidnya memang indah,” kata Fahrul, mahasiswa Fakultas Dakwah, kepada Notis.co.id, saat dijumpai di teras masjid, Jumat (14/8/2026).
Seakan mewakili pendapat warga kampus lainnya, pemuda 21 tahun ini, melihat hikmah lain keberadaan Masjid Safinatul Ulum.

Menurut Fahrul, masjid ini berhasil mengubah persepsi mahasiswa dan masyarakat setempat. Masjid bukan sekadar tempat ibadah. Melainkan juga tempat berbagai kegiatan sosial. Realitas itu dialami langsung oleh mahasiswa Fakultas Dakwah ini.
“Waktu saya masih jadi santri, kami kerap melakukan kegiatan rutin di sini. Mulai shalat berjamaah, zikir dan doa bersama, serta halaqah,” cerita Fahrul.
Ia menjelaskan, kegiatan halaqah biasanya diisi dengan setoran hapalan serta belajar kitab wajib Yanbu’a. Jadwalnya diatur bergantian antara di masjid dan di asrama.
Khusus pada malam Sabtu, seluruh santri wajib mengikuti kajian bersama mudir di masjid. Selain itu, terdapat agenda besar di bulan suci Ramadan bernama ‘KARAMA’ yang diisi dengan tausiyah. Kemudian dilanjutkan berbuka puasa bersama, hingga kajian malam secara konsisten.
Fahrul menambahkan, selain untuk beribadah, area teras masjid juga sering dimanfaatkan untuk rapat organisasi seperti LDK kampus (Bapinda). Pemilihan lokasi teras agar tidak mengganggu kekhusyukan jamaah yang sedang beribadah.
Dinamika Masjid Safinatul Ulum
Daya tarik Masjid Safinatul Ulum ibarat magnet. Salwa, mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, mengakuinya.
“Terutama di bulan Ramadan,” ungkap perempuan 20 tahun ini, membuka cerita pengalamannya.
Selain menjalankan tarawih di sana, Salwa bersama rekan-rekan putri yang sama-sama nge-kos di sekitar kampus, kerap melanjutkan aktivitas mengaji dan tadarus hingga menjelang tengah malam.
“Kesan indah lainnya, ya saat jalan bareng santriwati-santriwati lain, baik saat mau ke masjid atau pas pulang. Ada rasa kebersamaan, sekaligus seru-seruan. Karena biasanya pulang sampai tengah malam,” kisah mahasantri sekaligus pengurus (mualimah) ini.

Namun bukan di situ poinnya, sambung Salwa, ia melihat aktivitas para santri di masjid yang perlu digaris bawahi. “Karena itu menjadi salah satu variabel untuk menghidupkan suasana masjid,” imbuhnya.
Sementara bagi Ahmad Habibi, Masjid Safinatul Ulum telah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi dalam kesehariannya.
“Saya malah sudah jadiin masjid ini tempat ibadah sekaligus tempat beristirahat,” ucap mahasiswa Fakultas Dakwah ini, seraya mengulas senyum.
Posisi masjid yang dekat dengan gedung fakultasnya makin menguatkan ceritanya itu. Disela-sela jam kuliah, Habibi kerap memanfaatkannya untuk sejenak beristirahat di teras atau selasar masjid.
Dia juga kerap membuka diskusi ringan bersama rekan-rekannya, sambil menunggu jam kuliah berikutnya. Bahkan, sambungnya, organisasi kemahasiswaan tempatnya bernaung, juga kerap menggunakan area Masjid Safinatul Ulum sebagai lokasi kajian kaderisasi.
“Di sini bikin tenang. Jernih aja pikiran. Sekaligus untuk me-refresh otak,” katanya.

Hanya saja Habibi tetap menyayangkan bila ada pengunjung masjid yang sembarangan meletakkan sepatu, meski sudah disediakan tempat khusus.
“Satu lagi, saya suka miris kalau lihat kaki yang masih kotor, belum dibersihin, tapi sudah naik tangga masjid. Mestinya kan enggak gitu,” sesalnya.
Dia berharap, pengunjung masjid yang tidak hanya dari kalangan kampus, seharusnya sudah terbangun perilaku untuk memiliki kesadaran kolektif merawat fasilitas masjid. (*)


