Share This Article
Perayaan 17 Agustusan itu meriah. Identik dengan perlombaan rakyat. Ramai bertabur sorak-sorai. Juga berhamburan ragam hadiah. Memori semarak kemerdekaan itu bersemayam di benak anak-anak Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathla’ul Anwar. Kendati sebatas di ingatan. Tidak dikenyataan.
(Notis.co.id): Dua murid berdiri sejajar. Ada yang mengenakan seragam Pramuka. Ada juga yang berbaju olahraga. Pada masing-masing mulutnya terselip sendok. Sebutir kelereng nangkring di ujung sendok. Posisinya anteng. Bergeming.
Suara ibu guru terdengar di pengeras suara. Memberi aba-aba. Saat start dimulai, kedua bocah sontak melangkah. Kelereng mulai terguncang. Bergulir pelan di cekungan sendok.
Kedua anak tadi mulai cemas. Matanya sejenak melirik ke arah kelereng. Sedetik kemudian beralih ke depan. Melihat lintasan yang jaraknya tak lebih 7 meter.
Rute mereka menuju ujung lintasan, lalu kembali ke garis start. Tapi satu di antara mereka tidak beruntung. Belum juga menapak 10 langkah, kelereng di ujung sendoknya bergulir tak beratur. Lalu berguncang hebat. Sebelum akhirnya tergelincir ke luar cekungan sendok. Meluncur ke pelataran paving block. Tamat sudah. Ia gugur lomba.
Bersamaan dengan itu segelintir siswa yang menyaksikan pertandingan berdecak kecewa. Itu kiranya dari kubu pendukung yang menyesali kekalahan unggulannya.
Sementara di kubu rival pecah sorak sorai penyemangat. Mereka memberi dukungan pada jagoannya yang masih mampu menjaga keseimbangan kelereng. Sampai akhirnya tapak kakinya menjejak batas finis. Teriak girang kembali mengumandang. Sebagai perayaan kemenangan.
Biar Kayak Orang-orang di Sana

Tidak berselang lama, dua siswa lain segera turun ke arena. Mereka menjadi peserta berikutnya. Demikian seterusnya.
Prosesi perlombaan itu tidak berlangsung lama. Karena siswa sekolah yang berada di Jalan Untung Suropati, Gang Famili 1, Kelurahan Labuhan Ratu Raya, ini memang tidak banyak. Jumlahnya kurang dari 50.
Nyaris setengah dari siswa MI Mathla’ul Anwar ini adalah anak dari Yayasan Rumah Qur’an yang berada di Fajar Baru, tidak jauh dari sekolah. Anak-anak tersebut bergabung belajar 3 kali dalam seminggu. Selebihnya hanya siswa murni MI yang mengisi ruang kelas.
Dari tujuh ruang yang berada di madrasah tersebut, hanya sebagian saja yang dijadikan ruang belajar. Selebihnya sebagai ruang para pendidik yang jumlahnya tak lebih sembilan orang.
“Beginilah kondisinya. Sekolah kecil. Walau sederhana, kami tetap ikut rayain Hari Kemerdekaan. Biar anak-anak ikut rasain semangatnya,” terang Rafi’uddin, kepala madrasah, seraya mengembangkan senyum, Jumat (14/8/2026).
Selain lomba balap kelereng, semarak kemerdekaan juga diisi balapan kardus, mewarnai gambar dan lomba azan.
Sedangkan Aryani, siswa kelas 5, mengaku senang mengikuti perlombaan semarak kemerdekaan yang dihelat sekolahnya. “Seru. Adu balap sama Kawan-kawan,” ungkapnya ceria usai lomba balap kelereng.
Demikian juga dengan Rahmat. Bocah ini terlihat bersemangat, biar pun perayaan itu hanya diikuti oleh belasan siswa dan disaksikan beberapa guru.
“Bu gurunya semangat. Kayak penyiar pertandingan sepak bola di teve. Jadi saya juga ikutan semangat,” ucapnya, mengomentari suara Ibu gurunya yang tak henti memberi komentar dan aba-aba lewat pengeras suara.
Keceriaan semarak kemerdekaan juga terbias di wajah-wajah guru yang tak henti menyemangati siswanya. “Walau sederhana, harus tetap semangat. Biar meriah, kayak orang-orang di sana,” seloroh salah seorang guru yang berstatus honorer, lalu disambut tawa rekan-rekannya. (*)

