Share This Article
Sampah plastik tak ubahnya “musuh besar”. Sulit terurai secara alami. Mesti ada perlakuan khusus untuk menanganinya. Kompleks, memang. Tapi hasilnya cukup menjanjikan secara ekonomis.
(Notis.co.id): Beranjak dari upaya mengelola sampah plastik, bidang Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan (PKMU) Unila berkolaborasi dengan Inisiatif Lampung Sehat (ILS).
Kerja sama ini memberi pembekalan terhadap sekitar 40 anak muda. Mereka merupakan kader pemuda ILS di Bandar Lampung, serta perwakilan pemuda Pringsewu, Lampung Selatan, dan Lampung Timur.
Secara garis besar, pembekalan merujuk pada peningkatan kemampuan peserta, terutama dalam melakukan tata kelola sampah.
Materi yang disampaikan di antaranya mengolah sampah organik, berupa sayuran dan dedaunan. Proses ini melalui pengolahan di mesin pencacah. Kemudian disusul serangkaian mekanisme sederhana berikutnya, hingga akhirnya menjadi pakan maggot serta pupuk kompos.
Sedangkan untuk perlakuan terhadap sampah plastik, peserta pembekalan diberi wawasan bagaimana menjadikannya sebagai bahan utama pembuatan eco-paving block.
Gaya Hidup Sehat yang Peduli Lingkungan

Kegiatan yang dilangsungkan di kantor ILS Lampung, di Jl. P. Sanama No.28, Way Halim Permai, Sukarame, Bandar Lampung, ini dihadiri tim pelaksana dosen Unila sebagai narasumber.
Mereka adalah Lilih Muflihah, Dwi Wahyu Handayani, Hadi Prayitno, Rahayu Lestari, dan Nanda Utaridah.
Dwi Setyorini, dari ILS Lampung menguraikan, kegiatan ini menyasar kalangan muda dengan tujuan tertentu.
“Kenapa memilih pemuda? Karena pemuda sebagai tonggak estafet. Nilai-nilai positif mesti banyak diwariskan pada mereka. Termasuk dalam menangani persoalan sampah,” terangnya, Sabtu (15/8/2026).
Pemuda, imbuh Rini, harus tampil ke depan sebagai penggerak. Untuk itu ILS terus memperkuat aktivitas internal seperti menjalankan program Rasaku (Recycle Sekay Sambayan) dan edukasi green living.
“Ini adalah wadah khusus yang kami sediakan bagi generasi muda. Khususnya kalangan milenial dan gen Z. Tujuannya untuk menyuarakan serta menerapkan gaya hidup sehat dan peduli lingkungan.
Fokus utamanya mengkampanyekan pengurangan penggunaan sampah plastik, sekaligus mengedukasi gaya hidup hijau,” urai Rini, seraya menyebut berbagai kegiatan itu diarahkan untuk mendukung target Provinsi Lampung menuju ‘Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2029’.
Edukasi Dilanjutkan Eksekusi
Kegiatan yang diisi pemberian materi oleh tim dosen Unila, serta simulasi mesin pencacah sampah sederhana berbasis barang bekas, juga dilakukan pre-test dan post-test untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terkait pengolahan sampah.
Menurut Lilih Muflihah, mewakili (PKMU) Unila, kegiatan serupa ini memiliki output konkrit. Salah satu indikatornya terlihat dari hasil evaluasi pre-test dan post-test.
“Hasilnya positif. Terdapat peningkatan pemahaman peserta yang signifikan hingga meraih skor tinggi. Ini menandakan peserta pembekalan sudah berhasil memahami teori pengolahan sampah. Selanjutnya bisa diteruskan pada tahap eksekusi di lapangan,” terang Lilih.
Melalui proyek percontohan (pilot project) ini, diharapkan anak muda bisa menjadikan kepedulian ini sebagai habit. Sebab, jangan sampai edukasi yang diperoleh justru minim eksekusi. (*)


