Share This Article
Bagi Agus Suryadi, menjadi pengemudi ojek online bukan sekadar mencari penumpang. Ada kawan yang harus dijaga.
(Notis.co.id): Agus merupakan ketua GOC (Gabungan Ojek Cikditiro), komunitas pengemudi ojol yang mangkal di Jalan Teuku Cik Ditiro, Sumber Rejo, Kemiling, Bandar Lampung. Nama GOC diambil dari wilayah asal mayoritas anggotanya.
Komunitas itu sudah berjalan selama 11 tahun. Tidak ada sekretaris atau bendahara. Agus pun menyebut posisinya sebagai ketua sebatas formalitas.
“Di sini walau saya ditunjuk sebagai ketua, tapi cuma untuk formalitas aja. Karena pada dasarnya kami semua sama,” kata Agus, Selasa (25 Agustus 2026).
Bukan Sekadar Tempat Berkumpul
GOC lahir dari kepedulian antar-pengemudi. Komunitas itu menjadi ruang untuk berkomunikasi sekaligus saling membantu ketika anggota menghadapi masalah.
Pernah seorang anggota kehilangan motor di Jalan Antasari. GOC tidak mampu menemukan motor tersebut, tetapi para anggota tetap memberi dukungan.
“Kalau motor hilang begitu kan enggak mudah buat dicari. Jadi kami cuma bisa bantu lewat doa. Supaya motornya bisa cepat ketemu,” ujar Agus.
Kepedulian serupa muncul ketika motor anggota lain terbakar. Para anggota kemudian urunan untuk membantu biaya perbaikannya.
Kini GOC tercatat memiliki 75 anggota. Namun, hanya sekitar 40 orang yang masih aktif sebagai pengemudi ojol.
Sebagian anggota sudah tidak lagi menjalankan pekerjaan tersebut. Meski begitu, mereka tetap berada dalam grup WhatsApp dan masih saling berkomunikasi.
“Banyak yang berubah, sih. Walau sudah jarang kumpul, tapi seenggaknya masih bisa saling komunikasi lewat WA grup,” kata Agus.
Ojol Menanggung Modal Sendiri
Menurut Agus, kondisi pengemudi ojol kini juga semakin berat. Pengemudi harus menanggung sendiri berbagai kebutuhan kerja, mulai dari bensin hingga kuota internet.
Bonus dari aplikasi yang dulu masih bisa diandalkan kini semakin jarang dirasakan. Karena itu, Agus menilai kondisi pengemudi ojol sekarang tidak jauh berbeda dengan ojek pangkalan.
“Malah sekarang kalau dipikir-pikir kondisinya mirip kayak ojek pangkalan aja,” keluhnya.
Namun Agus tidak ingin berhenti pada keluhan. Baginya, masih bisa bekerja dan berkumpul bersama kawan-kawan merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
“Apa pun kondisinya, harus disyukuri. Masih ada rezeki, masih dikasih sehat. Itu aja sudah bikin saya sama kawan-kawan senang,” katanya.
Senyum tetap mengembang di wajah Agus. Meski getir, ia memilih bertahan bersama kawan-kawan GOC.(*)


