Keberadaan sampah selalu saja bikin masalah. Muhamad Dzuhri dan kawan-kawan tak berhenti sebatas merutuki. Mereka putar otak sambil terus eksperimen. Hasilnya, bisa bikin senyum banyak orang.
(Notis.co.id): Dzuhri adalah Ketua Tim Pemberdayaan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (PM BEM) Unila. Bersamanya turut Tri Rizki Handayani selaku sekretaris. Kendati berada di Kota Bandar Lampung, keduanya menyimpan harapan besar terhadap Pasar Krui di Kabupaten Pesisir Barat.
Mengapa Pasar Krui? Menurut Tri, di sana ada persoalan limbah organik. Paling sedikit ada dua ton sampah yang dihasilkan setiap hari. “Selama ini belum dikelola,” terangnya, baru-baru ini.
Padahal, imbuhnya lagi, sampah organik tersebut menyimpan potensi manfaat besar. Tantangan ini dibawa ke laboratorium. Tim turut dibimbing dosen pembina, Yusuf Perdana. Hasilnya, Tim PM BEM Unila berhasil merumuskan formulasi.
Penelitian tersebut diberi tajuk Transformasi Limbah Organik sebagai Inovasi Hijau untuk Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ekonomi Desa.
“Kami menawarkan inovasi yang mampu mengubah limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus ramah lingkungan,” kata Tri. Seraya menambahkan, inovasi ini telah diterapkan di Desa Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesibar.
Teknologi Siap Pakai
Teknologi yang mereka buat, lanjut Tri, memanfaatkan teknologi soluble liquid (SL). Apa pula itu?
Soluble liquid adalah semacam larutan bioaktivator yang diformulasikan dari 33 jenis tanaman keluarga Zingiberaceae, minyak nabati, minyak hewani, dan air lindi.
Adapun manfaatnya mampu mengurai limbah organik dalam waktu kurang dari 24 jam. Proses ini tanpa menimbulkan bau. Bersamaan dengan itu turut dihasilkan bioaktivator yang kaya mikroorganisme.
Nah, mikroorganisme ini dipergunakan untuk mendukung sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

Dari pengembangan riset tersebut, tim menghasilkan dua produk unggulan. Pertama, disebut Refnila (Rebio Fertilizer Universitas Lampung) berupa pupuk organik cair dengan berbagai fungsi. Kemudian Rafnila (Rebio Animal Feed Universitas Lampung) yang merupakan pakan dan suplemen unggas dengan kandungan nutrisi lengkap.
Tak hanya menghadirkan inovasi, tim juga melakukan pendampingan terhadap masyarakat. Bentuknya melalui transfer teknologi kepada 20 anggota Karang Taruna dan delapan anggota kelompok nelayan setempat.
Tim PM BEM Unila juga menghibahkan sejumlah peralatan produksi, seperti mesin pencacah sampah organik, alat pres ulir, dan mesin penggiling limbah ikan. Ini dimaksudkan agar program bisa terus berlanjut di Desa Pasar Krui.
“Diharapkan Karang Taruna di sana bisa mengolah hingga 80 persen limbah organik pasar setiap bulan. Sedangkan untuk kelompok nelayan diarahkan mengolah sekitar 70 persen limbah ikan untuk menjadi pakan yang bisa bernilai ekonomi,” urai Tri.
Saat ini, imbuhnya, pengelolaan program di Desa Pasar Krui terus dilanjutkan secara mandiri. Masyarakat setempat melakukannya melalui penguatan kelembagaan Bank Sampah dan Usaha Bersama (UUB).
Diundang Kemendiktisaintek
Keberhasilan tim PM BEM Unila, melalui inovasi hijau yang dihasilkan, tidak hanya berhenti di lokasi uji coba. Teknologi yang mereka usung ternyata menorehkan prestasi di tingkat nasional, melalui program inovasi pengelolaan limbah organik berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).
Dalam ajang Seminar Berdampak 2026, tim berhasil menembus 60 besar terbaik dari 263 tim se-Indonesia.
Sebagai apresiasinya, tim PM BEM Unila diundang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mempresentasikan program di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Kegiatan itu berlangsung sejak tanggal 5 sampai 7 Juni lalu. (*)















