Yuyun Candra Wati Merintis karir sebagai paralegal mengadvokasi rakyat.
Sosok Yuyun Candra Wati menjadi bukti bahwa keteguhan mimpi mampu menembus keterbatasan. Di usianya yang menginjak 25 tahun, wanita kelahiran Karang Anyar ini, tengah berjuang di garis depan hukum sebagai paralegal sekaligus asisten pengacara.
(Notis.co.id): Bagi Yuyun, hukum bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk menegakkan keadilan bagi masyarakat kecil.
Anak bungsu dari tiga bersaudara ini, memiliki latar belakang keluarga Jawa-Sunda yang kental dengan nilai kekeluargaan. Karakter peduli sesama yang ia miliki kini ia tumpahkan dalam pendampingan hukum.
Saat ini, Yuyun tercatat sebagai mahasiswi semester 3 Magister Hukum di Universitas Saburai, Bandar Lampung. Pendidikan tinggi ini ia tempuh demi satu janji, membuktikan kepada almarhum ayahnya bahwa ia bisa menjadi pengacara hebat.
Perjalanan Yuyun Candra Wati di dunia praktisi hukum dimulai melalui relasi yang membawanya bergabung dengan DPP Advokat Bela Rakyat Indonesia.
Selama sembilan bulan terakhir, ia dipercaya menjadi asisten pengacara Hermawan, S.Hi., M.H. Meski terhitung baru, Yuyun sudah terjun langsung dalam berbagai pendampingan hukum, baik perkara non-litigasi maupun proses persidangan.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya tidaklah main-main. Ia pernah mendapat amanah untuk mendampingi satu perkara secara mandiri. Pengalaman ini mengasah mentalitasnya sebagai calon advokat masa depan.
Baginya, setiap kasus adalah pelajaran berharga untuk memahami dinamika hukum di lapangan yang seringkali kompleks.
Visi utama Yuyun Candra Wati sangat jelas, yakni menjadikan profesi advokat sebagai sarana membela rakyat. Ia menyadari bahwa masyarakat kelas bawah seringkali kesulitan mendapatkan akses keadilan.
Oleh karena itu, ia bercita-cita segera menyelesaikan studi magisternya dan resmi menyandang gelar pengacara agar dapat berbuat lebih banyak bagi mereka yang membutuhkan.
Tentu perjalanannya tidak selalu mulus. Yuyun mengaku menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan pengalaman lapangan, kendala komunikasi akibat perbedaan bahasa dengan klien, hingga urusan biaya operasional perkara. Namun, hambatan tersebut justru ia jadikan bahan bakar untuk terus belajar.
“Saya ingin menjadi pengacara sepenuhnya, bukan sekadar asisten. Fokus saya adalah memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil yang sering terabaikan,” tegasnya, saat ditemui di kantor paralegal Hermawan, Sabtu (27 Desember 2025).
Melalui dedikasi dan kerja kerasnya saat ini, jalan terang menuju kursi advokat profesional kini terbuka lebar bagi Yuyun. (Safira Salsabila)
Ketika banyak orang sedang terlelap nyenyak. Kumandang azan subuh belum lagi terdengar. Daryono dan Danang…
Kemarau mulai meradang. Dampaknya bikin miris. Sebagian warga kesulitan memperoleh air bersih. Bak gayung bersambut,…
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung memperkuat pasokan cabai dan bawang melalui kerja sama dengan Pemerintah…
Kabel-kabel provider yang melintas di lingkungan pemukiman itu saling berdesakan. Berebut tempat. Entah kalah “sikut-sikutan”…
Pemkot Bandar Lampung melakukan penyegaran pejabat. Puluhan pejabat yang dilantik mencakup 28 pejabat administrator (eselon…
Beberapa warga belum menandaskan sarapan paginya. Bahkan Imran, belum lagi menyeruput kopi kentalnya yang baru…